Rabu, 08 April 2020

KEPEMIMPINAN HINDU



KEPEMIMPINAN HINDU
(Perspektif Asta Bratha)

 Oleh: I Wayan Putu Januartawa, S.Pd.
 
Om Swastyastu
Om Awighnam astu Namasiwa Budhaya.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam menjalankan hidup pasti mempunyai tujuan. Tujuan itu berupa kebahagiaan baik lahir maupun batin. Dalam menjalankan hidupnya, selain bertindak sebagai mahluk individu manusia juga merupkan mahluk sosial yang  hidupnya juga bergantung kepada manusia yang lain juga saling mempenggaruhi satu sama yang lain. Oleh karena itu manusia cenderung hidup berkelompok. Setiap kelompok memiliki tujuan masing- masing karena itu, maka setiap kelompok harus memiliki sosok yang dapat menggerakan anggotanya yaitu sesosok pemimpin.

CATUR GURU



CATUR GURU
(Implementasi Ajaran Catur Guru)

Oleh: I Wayan Putu Januartawa, S.Pd.
 
Om Swastyastu
Om Awighnam astu Namasiwa Budhaya.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang


Aktualisasi dan realisasi ajaran agama nampak dan tercermin dalam prilaku dan individu maupun sosial dalam keseharian, sebab walaupun orang memiliki pengetahuan agama yang tinggi bila keserakahan, keangkuhan dan arogansi menyelubungi seseorang, maka pengetahuan agama tersebut hanyalah bersifat teori belaka. Ajaran agama semestinya menjadi pegangan yang mengubah prilaku seseorang dari kurang arif menjadi arif, dan belenggu Asuri Sampad menjadi Daivi Sampad atau dari pengaruh Danawa menjadi prilaku Madhawa.

WAYANG SAPUH LEGER



WAYANG SAPUH LEGER
 (Makna dan Filosofi Wayang Sapuh Leger) 

Oleh:  I Wayan Putu Januartawa, S.Pd.
 
Om Swastyastu
Om Awighnam astu Namasiwa Budhaya.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wayang Sapuh Leger adalah jenis wayang kulit Bali yang berfungsi sebagai upacara ritual. Ia termasuk sakral dalam konteksnya karena merupakan bagian  dari upacara yang berada dalam lingkungan siklus kehidupan manusia (Manusa Yadnya). Hanya dipertunjukan pada anak yang lahir pada wuku wayang, terutama sekali yang lahirnya persis pada Saniscara Kajeng Kliwon Tumpek Wayang.

Rabu, 04 Maret 2020

REJANG MANDA BANJAR ADAT TIHINGAN DESA ADAT BEBANDEM


Oleh: I Wayan Putu Januartawa, S.Pd

Om Swastyastu
Om Awighnam astu Namasiwa Budhaya

Banjar Adat Tihingan adalah salah satu banjar adat yang terdapat di Desa Adat Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Banjar yang terdapat di areal persawahan dan perkebunan ini banyak sekali menyimpan tradisi-tradisi sakral nan unik.

Minggu, 19 Mei 2019

Sasih Mala Sadha


"Sasih Ke 13 Mala Sadha"
Oleh: I Wayan Putu Januartawa, S.Pd

MALANING SASIH

Malaning sasih, berasal dari kata Mala dan Sasih. Mala artinya ‘tidak baik’ dan ‘Sasih’ artinya bulan.

Jumat, 04 Januari 2019

SEKILAS HARI SUCI GALUNGAN DAN KUNINGAN




  1. Oleh:  I Wayan Putu Januartawa, S.Pd.


Om Swastyastu
Om Awighnam astu Namasiwa Budhaya

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada Hari Suci Galungan dan Kuningan, ada tradisi untuk membuat Penjor. Penjor adalah simbol dari Gunung sekaligus simbol dari keberadaan para Dewa. Penjor berbentuk seperti umbul-umbul dengan bahan tiang dari bambu dan hiasan utama janur, padi, kelapa, buah serta hasil-hasil bumi lainnya. Ini sebagai simbol bahwa semua hasil bumi yang kita nikmati berasal dari Tuhan.

Kamis, 05 April 2018

SEKLUMIT TENTANG DAUN UPAKARA

                









Oleh: I Wayan Putu Januartawa, S.Pd.
Om Swastyastu
Om Awighnam astu Namasiwa Budhaya.

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Agama Hindu sangat kaya dengan berbagai simbol, penampilannya sangat indah dan menarik hati setiap orang untuk melihatnya. Bagi Umat Hindu simbol-simbol tersebut menggetarkan kalbu dan berusaha untuk memahami makna yang terkandung di balik simbol-simbol tersebut.